ISU SOSIAL
”Manusia
Silver”, Masalah Sosial Berbalut Seni Jalanan
Manusia ”silver” semakin banyak di perempatan jalan, pasar, dan pusat keramaian sejak pandemi Covid-19 melanda Tanah Air. Bagian dari isu sosial yang butuh penanganan tepat, bukan sekadar ditertibkan dari sudut jalan.
Jagat
maya geger setelah viralnya foto seorang bayi bercat perak dan diajak mengemis
bersama orang dewasa berlumur cat serupa di kawasan SPBU Parakan, Pamulang,
Tangerang Selatan, Banten. Satuan Polisi Pamong Praja Tangerang Selatan
menelusuri kabar itu hingga menemukan bayi malang berinisial MFA yang berusia
10 bulan dan ibunya. Saat ini keduanya sudah berada di Balai Rehabilitasi
Sosial Melati, milik Kementerian Sosial di Jakarta Timur.
Selepas
temuan itu Satpol PP Tangsel menggelar razia di Perempatan Muncul, Pamulang,
Gaplek, Rempoa, Bintaro, dan Alam Sutera. Terjaring 19 ”manusia silver”,
pengemis di jalanan yang berciri khas mengecat hampir seluruh tubuhnya dengan
cat warna perak. Ke-19 orang itu terdiri dari 14 orang dewasa dan 5 anak
berusia 3 hingga 14 tahun.
Sebanyak
enam orang mengantongi KTP Tangsel sehingga dibawa ke dinas sosial. Sementara
manusia silver lainnya dibawa ke Balai Rehabilitasi Sosial
Melati.
”Pendapatan
sehari Rp 80.000 sampai Rp 300.000. Itu selama 3 jam keliling,” kata Kepala Seksi
Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Tangsel Muksin Al-Fachry, Rabu
(29/9/2021).
Mereka banting setir sebagai manusia silver dari pekerjaan sebelumnya
sebagai pemulung, sopir angkot, dan pedagang kaki lima. Itu sebagai jalan baru
mencari rezeki.
Manusia silver di
Tangsel biasanya bekerja dari pukul 15.00 hingga pukul 20.00. Selama itu mereka
menahan panasnya cat percak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak jarang
panas menimbulkan gangguan kulit seperti terkelupas, ruam, dan bentol.
Pascarazia,
tak tampak manusia silver di keramaian. Salah satunya di
perempatan Jalan Raya Pondok Betung yang menghubungkan Bintaro dan Ciputat.
Saban hari akses jalan itu ramai oleh kendaraan roda dua, roda empat, dan jalur
pejalan kaki dari dan ke Stasiun Pondok Ranji. Belum lagi letaknya yang dekat
dengan Bintaro Plaza dan Graha Bintaro.
”Kami
akan terus memantau dan razia supaya masalah sosial, seperti manusia silver, ini
bisa tertangani,” katanya.
Kepala
Dinas Sosial Tangerang Selatan Wahyunoto Lukman mengatakan, belakangan memang
marak pengemis berkedok manusia silver di ruang publik, pasar,
dan perempatan jalan. Umumnya mereka bukan warga Tangsel sehingga ditangani
oleh Kementerian Sosial seusai penertiban atau penangkapan.
”Mereka
sudah tidak bisa beroperasi di Jakarta sehingga minggir sedikit ke wilayah
penyangga. Mereka juga sering pindah dari satu titik ke titik lain agar tidak
kena razia,” ucapnya.
Dinas
Sosial Tangsel telah mendata manusia silver hasil razia satpol
PP. Mereka diminta menandatangani surat pernyataan agar tidak kembali ke
jalanan. Jika melanggar dan terkena razia, mereka bakal dikenai sanksi tindak
pidana ringan berupa kurungan empat bulan karena mengganggu ketertiban
umum.
Di sisi
lain warga diimbau beramal melalui lembaga penyalur bantuan resmi ketimbang
memberikan uang kepada pengemis atau peminta-minta. Sebab, simpati bisa memicu
daya tarik karena bisa meraup uang ratusan ribu rupiah dalam sehari.
”Kami
pantau dan monitor untuk cegah terjadinya eksploitasi anak atau mempekerjakan
anak. Kalau mereka ber-KTP Tangsel, kami kedepankan rehabilitasi sosial supaya
mampu bangkit dan mandiri,” ujarnya.
Survei
Sosial Ekonomi Nasional pada 2020 mencatat 40.990 keluarga miskin atau 2,29
persen di Tangsel. Dari jumlah itu Dinas Sosial Tangsel menjangkau 7.512 keluarga
penerima manfaat Program Keluarga Harapan, 12.000 keluarga penerima bansos
pangan, dan 83.000 keluarga penerima bansos tunai.
Pendekatan
kemanusiaan
Komisi
Nasional Perlindungan Anak mendata, ada 189 keluarga di Jakarta dan 200
keluarga di Depok, Jawa Barat, yang mengandalkan pekerjaan sebagai
manusia silver untuk mengemis di ruang publik.
Ketua
Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, mereka terdata
sebagai keluarga karena melibatkan orangtua dan anak, termasuk anak balita, sebagai
manusia silver. Fenomena tersebut meningkat akibat kesulitan
ekonomi pada masa pandemi Covid-19.
”Mereka
banting setir sebagai manusia silver dari pekerjaan sebelumnya
sebagai pemulung, sopir angkot, dan pedagang kaki lima. Itu sebagai jalan baru
mencari rezeki,” ucapnya.
Arist
menyayangkan pelibatan anak, khususnya anak balita, sebagai manusia silver untuk
mendapatkan uang seperti di Tangsel. Sebab, itu bentuk kekerasan terhadap anak
dan kejahatan kemanusiaan yang merendahkan martabat anak.
”Kegagalan
pemerintah dan masyarakat yang tak mampu menjawab masalah sosial baru. Harus
dicari solusinya melalui pendekatan kemanusiaan dan akar masalah yang menjadi
penyebabnya,” katanya.
Komnas
Perlindungan Anak menyarankan pemerintah daerah ataupun pusat tidak semata
melakukan penertiban atau razia hingga sanksi pidana ringan. Justru sebaiknya
mengalokasikan dan memberikan pelayanan sosial kemanusian yang cukup memadai.
Opini
saya :
Menurut
artikel diatas manusia silver sudah bukan hal asing bagi kita karena disetiap
per empatan jalan atau di tempat kearmaian selalu ada manusia silver terutama
dikota tempat saya tinggal, sebagian orang menganggapnya itu adalah
bagian dari seni tapi ada sebagian orang itu sebagai pengganggu lalulintas.
Karena semakin banyaknya manusia silver banyak yang beranggapan bahwa hal ini
bisa menimbulkan isu sosial seperti kejahatan yang berkedok sebagai manusia
silver apalagi sekarang bukan hanya orang dewasa saja tapi juga seorang balita,
yang membuat hilangnya nilai seni dari hal tersebut. Hal ini berdampak karena
masalah ekonomi di era pandemi ini, saya setuju bahwa manusia silver harus
segera diatasi, agar bisa berdampak baik bagi mereka dan lingkungan sekitar,
namun isu ini juga harus dapat perhatian dari pemerintah karena dampak utama
mereka melakukan itu karena adanya desakan ekonomi, oleh karena itu pemerintah
harus bisa mengatasinya dengan solusi yang lebih baik. Agar kehidupan manusia
silver bisa menjalani kehidupan yang semestinya.
Referensi
Isu dari:
https://www.kompas.id/baca/metro/2021/09/30/manusia-silver-masalah-sosial-berbalut-seni-jalanan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar