22/11/2021

Kegiatan sosial

Sepenggal cerita pengajar muda di pelosok kalimantan -Lentera indonesia.

https://youtu.be/4KrlR89dvT


Cuplikan video kegiatan sosial 


Cuplikan tersebut menceritakan seorang  pemuda tangguh yang di tugaskan ke pelosok Kalimantan utara untuk menjadi guru, beliau merelakan masa mudanya untuk mengajar di pelosok selama 1 tahun ,beliau mengajar kelas 1 sd yang masih buta akan huruf dan angka, dan mengajar les untuk kelas 6. beliau mengabdi dengan harapan pendidikan indonesia bisa sama rata dengan pendidikan yang ada di kota.

Menurut nya pendidikan di indonesia perlu generasi muda untuk menggerakkan pendidikan di indonesia,Menurut nya pendidikan di Indonesia masih kurang perhatian dari pemerintah ,hingga guru yang ada di pelosok masih kurang.

04/11/2021

Masalah Sosial Yang Terjadi Dalam Keluarga Dan Masyarakat



MASALAH SOSIAL YANG TERJADI DALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT


MASYARAKAT

Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.


Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.


Masalah sosial dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain:
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : keharusan makan, kependudukan, mempertahankan diri, dll.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dll.

1.Masalah sosial yang berasal dari faktor ekonomis yaitu

1.1. Kemiskinan

Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak bisa menjamin hidupnya sendiri seperti orang lain pada umumnya.kemiskinan dapat diklasifikasikan dalam kehidupan masyarakat yang masih sederhana dan dalam masyrakat yang sudah tergolong komplek. Jadi ukuran keya atau miskin itu memang relatif tidak sama, tergantung pada siuasi dan kondisi masyarakat yang bersangkut. Yang jelas karena tidak adanya pemabgian kekayaan yang merata.


1.2. Pengangguran

Pengangguran adalah suatau keadaan dimana seseorang tidak mempunyai pekerjaan yang bisa menjamin hidupnya sendiri.

2. Masalah sosial yang berasal dari faktor kebudayaan

Masalah sosial yang bersumber dai faktor kebudayaan biasanya yang paling menonjol bagi kehidupan manusia dalam masyarakat, yaitu jika manusia tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kebudayaan(cultural lag). Menurut DALDJUNI (1985), bahwa masalah sosial dapat bertalian dengan masalah alami ataupun masalah pribadi, maka ditunjau secara menyeluruh masalah sosial ternyata memiliki empey sumber penyebab, yaitu :

1. Faktor alam (ekologis – geografis), ini menyangkut gejala menipisnya sumberdaya alam.

2. Fattor biologis (dalm arti kependudukan), ini menyangkut bertambahnya umat manusia dengan pesat yang dirasakan secara nasional, regional, ataupun local.

3. Faktor budayawi, ini menimbulkan berbagai kegoncangan mental dan bertalian dengan aneka penyakit kejiwaan.

4.Faktor sosial, dalm arti berbagai kebijaksanaan ekonomi dan politik yang dikendalikan bagi masyarakat.

 

3. Masalah sosial yang berasal dari faktor biologis

Masalah sosial yang bersumber dari faktor biologis ini misalnya, masalah-masalah yang menyangkut kependudukan dan keharusan biologis lainnya.bebarapa faktor penyebab timbulnya masalah sosial yang bersumber dari faktor biologis :

 

3.1. Faktor Keharusan Makan

Untuk kenyataan kehidupan sehari-hari bahwa keharusan untuk makan ternyata besar sekali pengaruhnya terhadap kemungkinan timbulnya masalah sosial.

 

3.2. Faktor Kependudukan

Faktor kependudukan menyangkut bertambahnya jumlah manusia pada lapangan kehidupan tetap.

 

3.3. Faktor bagi manusia untuk mempertahankan diri

Manusai pada umumnya ternyata tidak dapat dipisahkan dari faktor ini, senbab bagaimanapun alasannya, yang pasti sifat hakiki manusia adalah pertama kali memntingkan dirinya sendiri sebagai makhluk individu. Akan tetapi dilain pihak individu tidak akan dapat mempertahankan dirinya sendiri, maka dari itu dia bergaul, bergabung atu mebabentuk kelompok sosial sebagaimana makhluk sosial lain.

 

4.  Masalah sosial yang berasal dari faktor psikologis

Masalah sosial bisa timbul oleh karena faktor psikologis, seperti kebingungan, disorganisasi, penyakit syaraf dan sebagainya. Dikatakan demikian oleh karena faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan manusia atau warga masyarakat tidak mampu untuk berpikir dan bertindak secara wajar.

Contoh Masalah Sosial dan Cara Mengatasinya

1. Individu keluarga dan masyarakat

Biasanya masalah yang terjadi di individu keluarga dan masyarakat adalah kurangnya berinteraksi dengan orang sekitar kita bahkan dengan sebangsa sehingga banyak sekali yang tidak peduli dengan orang – orang sekitar kita atau dengan masyarakat luas, dan kita hanya bersosialisasi dengan orang – orang tertentu saja sehingga akan tercipta pandangan yang menyatakan bahwa kita tertutup untuk umum, oleh karena itu ada beberapa cara mengatasinya yaitu dengan cara kita berbicara dengan orang lain dan kalau kita malu berbicara dengan orang lain kita juga bisa menggunakan facebook, twitter, friendster, dan web sosial lainnya, dengan menggunakan itu kita bisa berkenalan dengan orang – orang yang belum kita kenal dan untuk yang sudah kita kenal mempermudah kita untuk berkomunikasih dengan mereka.

2. Pemuda dan sosiallisasi

Pemuda dan sosiallisasi biasanya masalah yang terjadi adalah kurangnya waktu untuk bertemu dan jaraknya jauh dan banyaknya biaya yang di gunakan untuk berkomunikasi dan adanya rasa malu berbicara. Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah sosial pemuda dan masyarakat adalah dari dalam diri sendiri, dan lingkungan.Cara mengatasi masalahnya adalah kita bisa juga menggunakan web yang berfungsi untuk bersosiallisasi misalnya Facebook, twitter, friendster dan yang lainnya, dengan itu kita bisa mengurangi rasa kurangnya percaya diri dalam bersosiallisasi dan mengurangi biaya yang keluar untuk bersosialisasi.

3. Masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan

Biasanya masalah yang terjadi di masyarakat pedesaan dalam bersosialisasi adalah kurang sarana untuk bersosialisasi dan yang ada sarananya hanya sarana yang sederhanan kurang modern dan hanya menyangkup jarak – jarak tertentu atau hanya masyarakat yang satu desa dan kurangnya pendidikan yang mendidik masyarakat pedesaan untuk mengenal saranan komunikasi yang modern. Cara mengatasinya adalah kita harus mensosialisasikan sarana komunikasi yang modern dan pemerintah segera menyediakan sarana komunikasi modern ke pedesaan secara merata.

Masalah yang terjadi di masyarakat perkotaan adalah biasanya banyak dari mereka yang menyombongkan diri sehingga banyak yang tidak mau berkenalan atau bercengkrama dengan masyarakat pedesaan karena menganggap masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang kurang gaul atau kurang mengenal yang modern. Cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara mengubah cara berpikir kita tentang masyarakat pedesaan dan kita harus mau mengajarkan mereka atau mengenalkan mereka dengan sarana komunikasi yang modern, sehingga akan tercipta rasa bekerjasama dalam mengembangkan SDM atau sumber daya manusia, sehingga negara kita akan menjadi negara maju bukan hanya sedang berkembang.

jadi semua masalah yang terjadi di masyarakat dalam bersosialisasi yaitu adanya rasa kurang percaya diri, kesombongan, ketidakmauan, dan kurangnya pengetahuan tentang teknologi.

Berikut contoh masalah sosial di lingkungan tempat tinggal yang terjadi secara individual maupun kelompok:

1.    Penyalahgunaan Narkoba

Kasus penyalahgunaan narkoba seringkali dipengaruhi oleh keluarga yang tidak harmonis. Narkoba digunakan untuk meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, serta pelarian masalah. Mengatasi penyalahgunaan narkoba harus melalui beberapa tahapan, yaitu pemeriksaan, detoksifikasi, stabilisasi, dan pengelolaan aktivitas.

2.    Perampokan

Perampokan merupakan tindakan kriminal yang dilakukan dengan cara merampas harta benda orang lain. Tindakan ini sering disertai dengan penganiayaan, intimidasi, dan paksaan kepada korban. Mengatasi perampokan harus dengan hukum atau regulasi yang ketat.

3.    Pengangguran

Fenomena pengangguran dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya faktor kemalasan, usia yang sudah tidak produktif, serta rendahnya keterampilan dan pendidikan.

4.    Kriminalitas

Tindakan yang melanggar norma hukum dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat baik dari segi moral maupun material.

Karakteristik Masalah Sosial di masyarakat

1.Kondisi yang dirasakan banyak orang.

Suatu masalah baru dapat dikatakan sebagai masalah sosial apabila kondisinya dirasakan oleh banyak orang. Namun,tidak ada batasan mengenai berapa jumlah orang yang harus merasakan masalah tersebut.Jika suatu masalah mendapat perhatian dan pembicaraan yang lebih dari satu orang, masalah tersebut adalah masalah sosial.

2. Kondisi yang dinilai tidak menyenangkan.

Menurut paham hedonisme, orang cenderung mengulang sesuatu yang menyenangkan dan menghindari sesuatu yang tidak mengenakkan.Orang senantiasa menghindari masalah, karena masalah selalu tidak menyenangkan.Penilaian masyarakat sangat menentukan suatu masalah dapat dikatakan sebagai masalah sosial.

3. Kondisi yang menuntut perpecahan.

Suatu kondisi yang tidak menyenangkan senantiasa menuntut pemecahan.Umumnya, suatu kondisi dianggap perlu dipecahkan jika masyarakat menganggap masalah tersebut perlu dipecahkan.Pada waktu lalu, masalah kemiskinan tidak dikategorikan sebagai masalah sosial, karena waktu itu masyarakat menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang alamiah dan masyarakat belum mampu memecahkannya.[butuh rujukan] Sekarang, setelah masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggulangi kemiskinan, kemiskinan ramai diperbicangkan dan diseminarkan, karena dianggap sebagai masalah sosial.

4. Pemecahan masalah tersebut harus diselesaikan melalui aksi secara kolektif.

Masalah sosial berbeda dengan masalah individual.Masalah individual dapat diatasi secara individual, tetapi masalah sosial hanya dapat diatasi melalui rekayasa sosial seperti aksi sosial, kebijakan sosial atau perencanaan sosial, karena penyebab dan akibatnya bersifat multidimensional dan menyangkut banyak orang.

Upaya Pengendalian

1.Sosialisi

Fromm (1994) menyatakan bahwa jika suatu masyarakat ingin berfungsi secara efisien, maka anggotanya harus memiliki sifat yang membuat mereka ingin berbuat sesuai dengan apa yang harus mereka lakukan sebagai anggota masyarakat.Mereka harus menghentikan kegiatan mereka secara obyektif perlu mereka melakukan. Orang dapat dikendalikan dengan mensosialisasikannya kepada mereka, sehingga mereka menjalankan peran sesuai dengan apa yang diharapkan.

2. Tekanan sosial

Ketika seseorang mengalami tekanan keinginan dari sebuah masalah maka ini adalah sebuah proses yang berkisinambungan dan sebagian besar berlangsung tanpa disadari.Seseorang memilih menjadi seorang petani kecil, dan kemudian hanya berpandangan tentang partai Republik yang baik, tetapi berbeda ketika Dia mengalami tekanan dari partai ini, maka Ia akan memiliki haluan yang berbeda dengan pandangannya sebelumnya.Hal ini akan sama saat keadaan dilakukannya penekanan pada masalah sosial melalui perubahan paradigma terhadap masalah tersebut.

Contoh Kasus Sosial

Masalah Kebutuhan dan Sumber Daya di Daerah Tertinggal

Kondisi daerah tertinggal antara satu daerah dan daerah lainnya berbeda-beda, namun secara umum rata-rata masalah yang dihadapi adalah terkait dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang relatif rendah, dengan tingkat pendidikan di bawah rata-rata nasional. Umumnya daerah tertinggal memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah, yang dicirikan oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yaitu rendahnya Rata-rata Lama Sekolah (RLS), Angka Melek Huruf (AMH), dan Angka Harapan Hidup (AHH). Daerah tertinggal umumnya juga memiliki keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi, transportasi, air bersih, irigasi, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya sehingga mereka kesulitan melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.

Pada saat ini, daerah tertinggal di Indonesia mencapai 183 Kabupaten, sebanyak 34 kabupaten merupakan daerah otonomi baru. Dari kabupaten tertinggal tersebut tercakup 26.746 desa atau 35,47 persen dari total 75.410 desa yang ada di Indonesia. Sementara itu dari kontrak kerja Kementerian dalam Kabinet Indonesia Bersatu II dengan Presiden, diharapkan 50 kabupaten diantaranya keluar dari ketertinggalan (Helmy Faisal Zaini, 2010). Tingkat perekonomian masyarakat di daerah-daerah tertinggal umumnya juga rendah. Ini terjadi karena sebagian besar pola mata pencaharian masyarakat bertumpu pada sektor pertanian, dan pengelolaannya juga cenderung masih konvensional. Dampak dari hal tersebut, tingkat kemiskinan di daerah tertinggal rata-rata sebesar 23,4 persen, bahkan sebagian besar (75 persen) kabupaten daerah tertinggal berada di atas garis tingkat kemiskinan nasional (16,6 Persen) (Helmy Faishal Zaini, 2010).

Kondisi infrastruktur daerah tertinggal juga masih minim, ini mengakibatkan akses warga desa terhadap berbagai sarana penunjang kehidupan mengalami kendala. Infrastruktur yang mendukung aktifitas ekonomi dan infrastruktur lainnya, juga sangat terbatas. Kondisi jalan kerap belum memadai, begitu juga sarana dan prasarana lainnya, seperti ketersediaan penunjang pendidikan dan kesehatan yang relatif terbatas. Minimnya akses warga terhadap penunjang kehidupan ekonomi berakibat pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal ini sangat rendah, bahkan mengalami stagnasi.

Begitu kompleks kondisi yang ada di daerah-daerah tertinggal. Tidak sesederhana yang dibayangkan, dan ternyata begitu banyak faktor yang menyebabkan suatu daerah menjadi tertinggal. Secara geografis digambarkan bahwa daerah tertinggal yang terletak di wilayah pedalaman, tepi hutan dan pegunungan, umumnya tidak atau belum memiliki akses ke daerah lain yang relatif lebih maju, dicirikan oleh aksesibilitas yang tidak memadai, serta sarana dan prasarana sosial ekonomi yang juga belum memadai.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Kesos (2009) tentang “Masalah, Kebutuhan dan Sumber Daya di daerah Perbatasan dan Daerah Tertinggal”, diketahui bahwa permasalahan utama yang dialami masyarakat di wilayah-wilayah tertinggal adalah persoalan kemiskinan yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, diantaranya: rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan serta keterampilan. Hal ini menyebabkan warga masyarakat mengalami kesulitan dalam mengolah sumber yang ada karena belum optimalnya keterampilan pengolahan lahan yang mereka miliki. Fasilitas umum yang ada (di antaranya sarana kesehatan) masih sangat dirasakan kurang memadai terutama dari segi jumlah tenaga medis maupun kontinuitas pelayanan kepada masyarakat. Sarana jalan sangat parah bahkan sulit dilalui apalagi pada saat turun hujan karena masih berupa hamparan tanah. Transportasi umum sampai saat ini belum tersedia sehingga kondisi demikian menghambat aktifitas masyarakat dalam penumbuhan perekonomian mereka.

Demikian juga hasil penelitian yang dilakukan Puslitbang Kesos (2010) pada tema yang sama namun dengan lokasi yang berbeda, tentang “Masalah, Kebutuhan dan Sumberdaya Daerah perbatasan”, terungkap adanya persoalan keterbatasan sumber Daya manusia (SDM) yang berkualitas, tingkat kesejahteraan yang relatif masih rendah, tingkat pendidikan dan pengetahuan serta sarana kesehatan yang belum optimal. Belum lagi persoalan pemenuhan kebutuhan pokok yang terpaksa harus mereka peroleh justru dari negara tetangga karena jarak yang dekat dibanding harus ke kabupaten lain yang notabene memerlukan biaya yang cukup besar. Semua persoalan ini mempengaruhi kelancaran usaha pembangunan di wilayah tersebut.

Siapa yang patut dipersalahkan, jika pemerintah sendiri dalam kenyataannya telah berupaya menurunkan berbagai program pembangunan hingga pelosok negeri, yang pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat. Dengan harapan masyarakat mampu meningkatkan produktivitas kerja dan mampu meningkatkan kualitas hidup mereka. Memang memerlukan upaya tidak mudah, dan waktu yang tidak sebentar. Juga diperlukan langkah-langkah strategis dan terarah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat yang bersangkutan dengan mempertimbangkan kondisi sosial atau permasalahan sosial serta potensi dan sumber yang ada pada masyarakat.

KELUARGA

Keluarga merupakan asal dasar permulaan hidup manusia, karenanya bila terjadi masalah dalam keluarga tentunya akan mempengaruhi keadaan sosial dari anggota keluaganya. contoh dari masalah-masalah sosial terjadi dalam keluarga antara lain

1. Permasalahan perceraian orang tua

Permasalahan perceraian orang tua merupakan salah satu masalah sosial dalam keluaga yang cukup banyak terjadi dilingkungan kita saat ini. Masalah ini akan lebih menekan keadaan sosial dari anak-anak nya dalam keluarga. Anak yang ayah dan ibunya berpisah biasanya akan selalu menyendiri atau terkadang anak menjadi susah dikendalikan, alhasil anak-anak dari keluaga tersebut akan lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan yang berada disekitarnya. Contoh : Bani adalah anak dari keluarga yang orang tuanya berpisah. Karena hal itu  Bani lebih sering diluar rumah dibandingkan dengan dirumahnya. Sampai-sampai ia membenci orang tuanya. Ia lebih percaya dengan temannya dibandingkan orang tuanya sehingga ia terbawa dengan temannya, ia mulai mengikuti temannya seperti merokok. Dan pada akhirnya ia ikut-ikutan temannya mencoba narkoba sampai akhirnya ia kecanduan narkoba. Dari contoh tersebut dapat kita simpulkan bahwa perceraian orang tua merupakan masalah sosial keluarga yang sangat mempengeruhi mental anak sehingga menjadi lemah dan kehilangan akal sehatnya. Oleh sebab itu, orang yang mengalami seperti ini harus diberikan perhatian khusus sehingga tidak terjebak dalam lingkungan sosialnya yang negatif.

 2. Permasalahan Perekonomian

Masalah Perekonomian merupakan salah satu faktor yang memicu masalah sosial dalam keluarga. Keadaan ekonomi yang kurang menentu kadang membuat seluruh anggota keluarga tersebut  bertindak secara tidak rasional dan menghilangkan nilai moralnya. contohnya : Redy seorang anak dari keluarga yang bercukupan. Namun pada suatu hari ia ingin mengupgrade komputernya. Setelah itu ia meminta pada orang tuanya, namun sayang orang tuanya akhirnya menolaknya dengan alasan hal tersebut tidak terlalu mendesak namun Redy memaksa. Namun akhirnya ia hanya mendapatkan amarah orang tuanya yang sudah kelelahan mecari uang. akhirnya Redy mencuri uang orang tuanya secara diam-diam untuk membeli apa yang dia inginkan. Dari contoh tersebut walaupun tidak secara langsung masalah terjadi dalam keluarga namun salah anggota keluarga akan merasakan suatu tekanan sehingga ia akan berbuat tanpa berfikir dengan jernih.

 3. Permasalahan Harmonisasi keluarga

Harmonisasi Keluarga merupakan masalah sosial dalam keluarga. Hal ini tidak jauh berbeda dengan perceraian orang tua. Ketidak harmonisan membuat anggota keluarga tidak betah berkumpul bersama keluarga bahkan hingga tidak betah terhadap rumahnya sendiri. Sehingga keluarga tersebut lebih senang aktivitas personalnya diluar rumah. permasalahan sosial ini tentunya akan mempengaruhi keadaan mental dan psikis anggota keluarga tersebut terlebih lagi anak-anak. Anak-anak akan merasa tertekan dan merasa kurang betah bahkan membenci keluarganya. contoh: Pangki merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya. Namun sayangnya dirumahnya ia hanya mendapatkan pertengkaran-pertengkaran dari orang tuanya, alhasil ia kekurangan orang tuanya. Setiap ia bersama orang tuanya ia hanya mendapatkan amarahnya saja. Akhirnya Pangki pun stress dan kabur keluar rumah, ia mengikuti ajakan teman-temanya yang negatif. dan akhirnya ia moralnya menjadi rusak dan tak terkendali lagi. Dari contoh diatas seseorang dari keluarga yang tidak harmonis akan kekurangan perhatian dan kasih sayang. Oleh karenanya orang dalam masalah sosial tersebut harus mendapatkan arahan dan kasih sayang yang positif dari lingkungannya.

 4. Permasalahan lingkungan sosial

Permasalahan yang satu ini pasti akan dirasakan pada setiap keluarga. Setiap keluarga pastinya akan melakukan interaksi pada lingkungan sosialnya. Lingkungan akan dengan cepat menilai keadaan sosial dalam keluarga tersebut. Namun lingkungan sosial dapat membuat masalah dalam sebuah keluarga. Contoh: keluarga Rezy merupakan keluarga yang baik dan bermoral. Namun pada suatu saat keluarga tersebut pindah dalam suatu lingkungan yang kurang baik. Setelah beberapa lama anak-anak dari Rezy menjadi pembantah semua, akhirnya sering terjadi pertengkaran keluarga dan menyebabkan keluarga tidak harmonis lagi. Dari contoh diatas lingkungan sosial merupakan suatu masalah dalam keluarga. Apabila keluarga tidak memiliki moral yang kuat maka lingkungan akan dengan mudah menggoyahkan keluarga tersebut. Oleh karena itu untuk menghadapinya keluarga harus ditanamkan moral dan prinsip secara konsisten sehingga tidak mudah terpengaruh terhadap lingkungan sosial.

Dari beberapa permasalahan yang dibahas ada beberapa faktor yang cukup membuat masalah sosial dalam keluarga yaitu faktor moral, prinsip, keyakinan, dan sosialisasi. oleh sebab itu keluarga harus menanamkan moral, prinsip, keyakinan, dan sosialisasi semenjak dini sehingga sudah tertanam kuat dalam masing-masing anggota keluarga.

 


12/10/2021

Ilmu Sosial Dasar

ISU SOSIAL

 

Manusia Silver”, Masalah Sosial Berbalut Seni Jalanan

Manusia ”silver” semakin banyak di perempatan jalan, pasar, dan pusat keramaian sejak pandemi Covid-19 melanda Tanah Air. Bagian dari isu sosial yang butuh penanganan tepat, bukan sekadar ditertibkan dari sudut jalan.

Jagat maya geger setelah viralnya foto seorang bayi bercat perak dan diajak mengemis bersama orang dewasa berlumur cat serupa di kawasan SPBU Parakan, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Satuan Polisi Pamong Praja Tangerang Selatan menelusuri kabar itu hingga menemukan bayi malang berinisial MFA yang berusia 10 bulan dan ibunya. Saat ini keduanya sudah berada di Balai Rehabilitasi Sosial Melati, milik Kementerian Sosial di Jakarta Timur.

Selepas temuan itu Satpol PP Tangsel menggelar razia di Perempatan Muncul, Pamulang, Gaplek, Rempoa, Bintaro, dan Alam Sutera. Terjaring 19 ”manusia silver”, pengemis di jalanan yang berciri khas mengecat hampir seluruh tubuhnya dengan cat warna perak. Ke-19 orang itu terdiri dari 14 orang dewasa dan 5 anak berusia 3 hingga 14 tahun.

Sebanyak enam orang mengantongi KTP Tangsel sehingga dibawa ke dinas sosial. Sementara manusia silver lainnya dibawa ke Balai Rehabilitasi Sosial Melati.

”Pendapatan sehari Rp 80.000 sampai Rp 300.000. Itu selama 3 jam keliling,” kata Kepala Seksi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Tangsel Muksin Al-Fachry, Rabu (29/9/2021).


Mereka banting setir sebagai manusia silver dari pekerjaan sebelumnya sebagai pemulung, sopir angkot, dan pedagang kaki lima. Itu sebagai jalan baru mencari rezeki.

 

Manusia silver di Tangsel biasanya bekerja dari pukul 15.00 hingga pukul 20.00. Selama itu mereka menahan panasnya cat percak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak jarang panas menimbulkan gangguan kulit seperti terkelupas, ruam, dan bentol.

Pascarazia, tak tampak manusia silver di keramaian. Salah satunya di perempatan Jalan Raya Pondok Betung yang menghubungkan Bintaro dan Ciputat. Saban hari akses jalan itu ramai oleh kendaraan roda dua, roda empat, dan jalur pejalan kaki dari dan ke Stasiun Pondok Ranji. Belum lagi letaknya yang dekat dengan Bintaro Plaza dan Graha Bintaro.

”Kami akan terus memantau dan razia supaya masalah sosial, seperti manusia silver, ini bisa tertangani,” katanya.

Kepala Dinas Sosial Tangerang Selatan Wahyunoto Lukman mengatakan, belakangan memang marak pengemis berkedok manusia silver di ruang publik, pasar, dan perempatan jalan. Umumnya mereka bukan warga Tangsel sehingga ditangani oleh Kementerian Sosial seusai penertiban atau penangkapan.

”Mereka sudah tidak bisa beroperasi di Jakarta sehingga minggir sedikit ke wilayah penyangga. Mereka juga sering pindah dari satu titik ke titik lain agar tidak kena razia,” ucapnya.

Dinas Sosial Tangsel telah mendata manusia silver hasil razia satpol PP. Mereka diminta menandatangani surat pernyataan agar tidak kembali ke jalanan. Jika melanggar dan terkena razia, mereka bakal dikenai sanksi tindak pidana ringan berupa kurungan empat bulan karena mengganggu ketertiban umum.

Di sisi lain warga diimbau beramal melalui lembaga penyalur bantuan resmi ketimbang memberikan uang kepada pengemis atau peminta-minta. Sebab, simpati bisa memicu daya tarik karena bisa meraup uang ratusan ribu rupiah dalam sehari.

”Kami pantau dan monitor untuk cegah terjadinya eksploitasi anak atau mempekerjakan anak. Kalau mereka ber-KTP Tangsel, kami kedepankan rehabilitasi sosial supaya mampu bangkit dan mandiri,” ujarnya.

Survei Sosial Ekonomi Nasional pada 2020 mencatat 40.990 keluarga miskin atau 2,29 persen di Tangsel. Dari jumlah itu Dinas Sosial Tangsel menjangkau 7.512 keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan, 12.000 keluarga penerima bansos pangan, dan 83.000 keluarga penerima bansos tunai.

Pendekatan kemanusiaan

Komisi Nasional Perlindungan Anak mendata, ada 189 keluarga di Jakarta dan 200 keluarga di Depok, Jawa Barat, yang mengandalkan pekerjaan sebagai manusia silver untuk mengemis di ruang publik.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, mereka terdata sebagai keluarga karena melibatkan orangtua dan anak, termasuk anak balita, sebagai manusia silver. Fenomena tersebut meningkat akibat kesulitan ekonomi pada masa pandemi Covid-19.

”Mereka banting setir sebagai manusia silver dari pekerjaan sebelumnya sebagai pemulung, sopir angkot, dan pedagang kaki lima. Itu sebagai jalan baru mencari rezeki,” ucapnya.

Arist menyayangkan pelibatan anak, khususnya anak balita, sebagai manusia silver untuk mendapatkan uang seperti di Tangsel. Sebab, itu bentuk kekerasan terhadap anak dan kejahatan kemanusiaan yang merendahkan martabat anak.

”Kegagalan pemerintah dan masyarakat yang tak mampu menjawab masalah sosial baru. Harus dicari solusinya melalui pendekatan kemanusiaan dan akar masalah yang menjadi penyebabnya,” katanya.

Komnas Perlindungan Anak menyarankan pemerintah daerah ataupun pusat tidak semata melakukan penertiban atau razia hingga sanksi pidana ringan. Justru sebaiknya mengalokasikan dan memberikan pelayanan sosial kemanusian yang cukup memadai.

 

Opini saya :

Menurut artikel diatas manusia silver sudah bukan hal asing bagi kita karena disetiap per empatan jalan atau di tempat kearmaian selalu ada manusia silver terutama dikota tempat saya tinggal, sebagian orang menganggapnya itu adalah  bagian dari seni tapi ada sebagian orang itu sebagai pengganggu lalulintas. Karena semakin banyaknya manusia silver banyak yang beranggapan bahwa hal ini bisa menimbulkan isu sosial seperti kejahatan yang berkedok sebagai manusia silver apalagi sekarang bukan hanya orang dewasa saja tapi juga seorang balita, yang membuat hilangnya nilai seni dari hal tersebut. Hal ini berdampak karena masalah ekonomi di era pandemi ini, saya setuju bahwa manusia silver harus segera diatasi, agar bisa berdampak baik bagi mereka dan lingkungan sekitar, namun isu ini juga harus dapat perhatian dari pemerintah karena dampak utama mereka melakukan itu karena adanya desakan ekonomi, oleh karena itu pemerintah harus bisa mengatasinya dengan solusi yang lebih baik. Agar kehidupan manusia silver bisa menjalani kehidupan yang semestinya.

 

Referensi Isu dari:

https://www.kompas.id/baca/metro/2021/09/30/manusia-silver-masalah-sosial-berbalut-seni-jalanan/